Tren Harga Baja & Besi Global Tahun 2025

Tren harga baja global menjelang tahun 2025, dengan fokus pada pemulihan pasca-pandemi COVID-19 yang telah mempengaruhi banyak sektor industri, termasuk baja. Pada masa pandemi, banyak negara menghadapi penurunan produksi dan pengurangan aktivitas konstruksi karena pembatasan dan gangguan rantai pasokan. Namun, dengan pemulihan ekonomi di berbagai negara, permintaan untuk baja, terutama dalam sektor konstruksi dan infrastruktur, diperkirakan akan mengalami lonjakan.
 

Point Utama:

  • Kenaikan Permintaan Baja

Pemulihan sektor konstruksi dan infrastruktur pasca-pandemi akan mendorong permintaan baja. Negara-negara berkembang seperti India, China, dan negara-negara Asia Tenggara diperkirakan akan memimpin dalam konsumsi baja, terutama untuk proyek-proyek besar seperti jembatan, gedung tinggi, dan infrastruktur transportasi.

  • Dampak Kenaikan Biaya Energi              

Proses pembuatan baja yang sangat bergantung pada energi, seperti penggunaan batu bara dalam pembuatan baja dengan metode blast furnace, dapat terpengaruh oleh fluktuasi harga energi. Beberapa negara dan perusahaan baja mulai beralih ke sumber energi terbarukan atau lebih efisien untuk mengurangi biaya dan emisi karbon.

  • Kebijakan Perdagangan dan Tarif

Negara-negara besar yang memproduksi baja, seperti China, Uni Eropa, dan Amerika Serikat, mengimplementasikan kebijakan perdagangan yang berbeda, seperti tarif impor atau subsidi ekspor. Hal ini mempengaruhi harga baja global dan memicu ketegangan dagang antar negara.

  • Ketergantungan pada Impor

Beberapa negara yang tidak memiliki industri baja domestik yang kuat akan semakin bergantung pada impor baja dari negara produsen utama, yang membuat harga lebih terpengaruh oleh fluktuasi global dan masalah rantai pasokan.

Inovasi dalam Produksi Baja Berkelanjutan

Baja adalah salah satu material yang paling banyak digunakan di dunia, namun juga salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dioksida (CO2). Artikel ini membahas berbagai inovasi dan teknologi baru yang sedang dikembangkan untuk mengurangi dampak lingkungan dari produksi baja, yang dikenal sebagai industri yang sangat intensif energi.

 

Poin Utama:

  • Penggunaan Hidrogen dalam Produksi Baja

Salah satu teknologi yang sedang dikembangkan adalah penggunaan hidrogen untuk menggantikan batu bara dalam proses produksi baja. Ini dikenal sebagai proses Direct Reduction of Iron (DRI) menggunakan hidrogen, yang menghasilkan uap air (H2O) sebagai produk sampingan, alih-alih CO2. Teknologi ini menjanjikan untuk mengurangi emisi karbon dalam produksi baja secara signifikan.

  • Baja Daur Ulang (Recycled Steel)

Penggunaan baja daur ulang untuk mengurangi kebutuhan bahan baku primer seperti bijih besi adalah salah satu cara yang lebih ramah lingkungan. Proses peleburan baja daur ulang menggunakan lebih sedikit energi dan menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan proses pembuatan baja baru dari bijih besi.

  • Electric Arc Furnace (EAF):

Penggunaan Electric Arc Furnace (EAF) sebagai alternatif metode blast furnace tradisional juga lebih efisien dalam hal energi dan lebih ramah lingkungan, karena menggunakan lebih banyak baja daur ulang dan mengurangi emisi CO2.

  • Peran Perusahaan Baja dalam Pengurangan Emisi

Beberapa perusahaan baja besar seperti ArcelorMittalTata Steel, dan SSAB sedang berinvestasi dalam teknologi rendah karbon, termasuk pengembangan pabrik baja berbasis hidrogen dan memperkenalkan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.

Tantangan:

  • Biaya Transisi: Meskipun teknologi baru ini menjanjikan pengurangan emisi, biayanya masih relatif tinggi, dan banyak perusahaan baja di negara berkembang menghadapi kesulitan dalam mengakses teknologi tersebut. Selain itu, infrastruktur energi terbarukan yang diperlukan untuk mendukung produksi baja hijau juga belum merata di seluruh dunia.
  • Regulasi Pemerintah: Pemerintah di banyak negara juga mulai memberlakukan peraturan yang lebih ketat terkait emisi karbon dan keberlanjutan industri. Ini mendorong produsen baja untuk berinovasi, tetapi juga menambah biaya operasional dan investasi.
 

Potensi Penggunaan Baja dalam Sektor Energi

Baja memiliki peran kunci dalam perkembangan energi terbarukan, terutama di sektor seperti tenaga angin, tenaga surya, dan penyimpanan energi. Artikel ini menjelaskan bagaimana baja digunakan dalam pembangunan infrastruktur energi terbarukan dan bagaimana sektor ini bisa meningkatkan permintaan untuk baja di masa depan.

Poin Utama:

  • Baja untuk Turbin Angin

Turbin angin modern, terutama yang digunakan di ladang angin lepas pantai, memerlukan baja dalam jumlah besar. Baja digunakan dalam struktur tiang turbin, serta dalam komponen utama turbin itu sendiri, seperti rotor dan poros. Dengan berkembangnya pasar energi terbarukan, permintaan untuk baja dalam pembuatan turbin angin diperkirakan akan terus meningkat.

  • Baja dalam Infrastruktur Penyimpanan Energi

Salah satu tantangan terbesar dalam energi terbarukan adalah penyimpanan energi. Baja digunakan dalam pembuatan baterai penyimpanan energi skala besar, seperti baterai lithium-ion dan juga dalam infrastruktur penyimpanan energi lainnya (seperti sistem penyimpanan energi berbasis hidrogen).

  • Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Baja juga digunakan dalam pembangunan struktur penopang untuk panel surya, serta dalam jaringan listrik yang menghubungkan panel surya dengan sistem distribusi energi. Walaupun panel surya itu sendiri lebih banyak terbuat dari silikon, baja masih menjadi bahan struktural utama dalam pembangkit listrik tenaga surya.

  • Baja untuk Infrastruktur Jaringan Energi Cerdas (Smart Grid)

Dengan meningkatnya adopsi energi terbarukan, infrastruktur yang lebih efisien dan cerdas dibutuhkan untuk mendistribusikan energi. Baja digunakan dalam pembangunan dan pemeliharaan jaringan distribusi listrik, termasuk pembangkit energi dan pipa distribusi.

“Dalam dunia manufaktur, baja bukan hanya bahan baku, tetapi juga simbol kekuatan dan daya tahan.”

Tantangan dan Potensi:

  • Permintaan Baja untuk Energi Terbarukan : Dengan semakin banyaknya negara yang berkomitmen untuk transisi ke energi bersih, seperti yang terlihat dalam perjanjian iklim internasional (misalnya Paris Agreement), permintaan untuk baja di sektor energi terbarukan diperkirakan akan terus meningkat.
  • Inovasi dalam Bahan Bangunan Alternatif : Selain baja, beberapa alternatif lain seperti bahan komposit dan material berbasis serat karbon juga mulai digunakan dalam sektor energi terbarukan. Meskipun baja masih menjadi pilihan utama untuk banyak aplikasi, material alternatif ini bisa menambah tantangan pada industri baja dalam jangka panjang.